Sabtu, 18 Juli 2009

coba lagi

Sabtu, 21 Maret 2009

KE PENGAJIAN, BAWALAH BUKU CATATAN!

Tidak sedikit kaum muslimin yang menghadiri majelis taklim, baik ke pengajian yang bersifat rutin (mingguan atau bulanan) maupun pengajian-pengajian akbar yang pelaksanaannya berdasar even tertentu. Terlebih saat tabligh akbar, pria-wanita, tua-muda, bahkan anak-anak pun turut menghadirinya. Sering kita jumpai bahkan kaum muslimin yang tinggal di daerah datang dengan berkelompok-kelompok mengendarai truk atau mobil bak terbuka lainnya. Jika kita perhatikan dengan baik maka kita akan saksikan bahwa kedatangan mereka benar-benar hanya untuk mendengarkan ceramah yang hendak disampaikan oleh pembicara, mubaligh, atau da'i. Dan jika kita tanya, apa tujuanmu datang ke pengajian ini? Jawaban mereka beragam; di antaranya adalah ingin mencari ilmu, mendengarkan ceramah, mencari pahala, meningkatkan iman takwa, melembutkan hati, dalain sebagainya. Meski demikian, ada saja yang menjawab, “Hanya ingin tahu,” atau, “Dari pada di rumah terus,” atau, "Siapa tahu kenapa jodoh," Jawaban-jawaban ini sah-sah saja. Sebab, menghadiri majelis taklim itu sendiri adalah suatu amal saleh. Permasalahannya adalah bahwa setiap orang hanya akan mendapati apa yang dia niatkan dari suatu amal perbuatan yang dia lakukan. Seseorang yang datang ke pengajian dengan niatan mencari ilmu maka dia akan mendapatkan ilmu. Begitu pula yang datang karena ingin mendengarkan ceramah maka dia hanya akan dapat mendengarkan ceramah. Yang sekadar ingin lihat-lihat, dia hanya mendapat pemandangan banyak orang yang berkumpul, begitu seterusnya. 

Beberapa jawaban peserta pengajian yang saya simpulkan di atas—mencari ilmu, ceramah, pahala, kelembutan hati—dapat teraih asalkan kedatangan mereka adalah dengan persiapan yang baik. Selain niat yang baik dan bersih dari penyakit hati, yang perlu di bawa ke majelis-majelis taklim adalah buku catatan. Betapa banyak kaum muslimin yang meremehkan hal ini; membawa buku catatan ke pengajian. Padahal hikmahnya sungguh sangat luar biasa. Manfaat buku catatan di pengajian adalah untuk mengikat untaian kalimat sarat makna dan hikmah yang disampaikan oleh para penceramah. Dengan menuliskannya ke dalam buku catatan, yakinlah bahwa sepulang dari kajian, peserta pengajian tidak hanya membawa cerita, tetapi juga membawa pulang ilmu, pahala, kelembutan hati, dan kebaikan-kebaikan lain. Bagaimana demikian?  

Mari kita cermati beda antara peserta pengajian yang mencatat isi kajian dengan yang hanya mendengarkan ceramah. Pengamatan ini kita mulai saat keduanya telah meninggalkan majelis taklim. Ketika mereka bertemu dengan keluarga atau kawannya—bisa jadi di rumah atau mungkin masih di perjalanan menuju rumah, biasanya mereka akan ditanya, “Bagaimana pengajiannya?” Atau, “Dapat apa saja di majelis taklim?” kedua pertanyaan ini umum ditanyakan kepada mereka yang baru pulang dari pengajian. 

Orang yang hanya mendengarkan ceramah menjawab, “Lumayan,” “Bagus,” “Biasa saja,” atau bahkan, “Lucu.” Bagaimana isinya? “Wah, ya saya tidak hafal semuanya, pokoknya seru, deh. Rugi kalau nggak datang!” Atau, “Salah sendiri kamu tidak datang.” Stop! Kalau sudah begini, tidak bisa dilanjutkan. Kita tidak bisa berharap banyak dari jawaban-jawaban seperti ini. Bagi yang bertanyanya hanya basa-basi, barangkali jawaban seperti ini tidaklah masalah dan akan berlalu begitu saja. Tetapi, bagi sungguh-sungguh dalam pertanyaannya maka dia akan kecewa dan mungkin mencemooh. Bagaimana tidak? Karena secara umum dia hanya akan mengungkapkan perasaannya, kesan-kesannya setelah mengikuti pengajian, memberi penilaian bagaimana penceramahnya, dan sangat sedikit kesimpulan dari kajian yang disampaikan.  
Adapun peserta kajian yang mencatat isi kajian, dia akan lebih banyak menyampaikan materi kajian yang disampaikan penceramah daripada mengungkapkan kesan-kesan perasaannya terhadap suasana majelis. Banyaknya “informasi penting” yang bisa dia sampaikan itu tak lain karena buku catatannya. Dia tuliskan apa-apa yang menurutnya penting. Setidaknya untuk dirinya sendiri, selebihnya bagi orang-orang yang mungkin dia berencana untuk menyampaikannya karena ketidak hadiran mereka dalam pengajian tersebut. Bagaimana tidak disebut sebagai informasi penting jika dengan informasi tersebut—yang dia sampaikan kepada orang lain (atau orang yang bertanya)—dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan orang lain atau menyadarkan mereka yang sebelumnya lalai. Ini bernilai pahala karena ada dakwah di dalamnya. 
Dia hanya sedikit mengomentari bahkan sama sekali tidak berkomentar terhadap hal-hal yang tidak dianggapnya penting, semisal tentang bagaimana penceramahnya; lucu atau tidak, atau berapa yang datang; banyak atau tidak. Sebab, semua itu memang tidak menjadi perhatiannya. Konsentrasinya hanya satu, isi ceramah (baca: ilmu); bagaimana sebanyak mungkin menuliskannya ke dalam buku catatan. 
Beda, kan? Manakah menurut Anda yang lebih baik?
Menghadiri majelis taklim, mengikuti ceramah agama itu baik dan merupakan amal saleh. Niatnya berpahala, langkah kakinya berpahala, duduk dan mendengarnya pun berpahala. Tetapi, jika bisa mengikat hikmah dari dakwah yang disampaikan para da’i, tentu pahala-pahala itu akan lebih berkembang. Ia ibarat investasi. Ikhlas dalam mencatat materi kajian kemudian menyampaikannya lagi kepada orang lain adalah dakwah. Pahalanya akan bertambah manakala orang yang didakwahi termotivasi untuk beramal saleh. Dengan demikian, buku catatan dan tulisan tangannya akan menjadi ilmu yang bermanfaat. Yaitu ilmu yang pahalanya terus mengalir, meski pemiliknya sudah meninggal dunia. 
Mungkinkah pahala yang berlipat tanpa batas ini bisa terwujud dengan tidak mencatat? Mestinya mungkin. Hanya saja memerlukan ketajaman daya ingat yang luar biasa, dan itu sangat jarang karena karunia ini sebagian besar adalah milik wali Allah orang-orang pilihan-Nya, seperti para ulama di awal-awal masa Islam. Kalaupun bisa, barangkali hasilnya tidak semaksimal orang yang memiliki buku catatan. Alih-alih mendapat pahala, dikhawatirkan apa yang disampaikannya salah. Wallahu a’lam.  

Selasa, 17 Maret 2009

Gagasan: SPIRITUAL WRITING

Spiritual dalam kamus berarti berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin). Untuk selanjutnya, kata spiritual ini kita pahami sebagai segala sesuatu yang terkait dengan peribadatan Islam. Writing adalah bahasa Inggris dari kata menulis. Jadi, secara bahasa kata spiritual writing berarti aktivitas menulis yang berhubungan dengan masalah ruhani. Adapun secara istilah, spiritual writing adalah aktivitas kepenulisan islami yang tujuannya semata-mata adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah sebagai Rabb dan mencari ridha-Nya.

Dari pendefinisian di atas, kita mengetahui bahwa aktivitas menulis bisa dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Artinya, menulis bisa jadi ibadah. Nah, kapankah aktivitas menulis ini bisa menjadi atau bernilai ibadah? Jawabnya, yaitu ketika menulis, seorang yang menulis merasakan bertambahnya kadar keimanan dan ketakwaannya, atau apa yang ditulisnya (hasil tulisannya) bermanfaat bagi orang lain dalam meningkatkan kualitas iman dan takwa mereka kepada Allah sehingga memotivasi mereka. Bagi yang sudah giat beribadah menjadi semakin giat, sedangkan bagi yang sebelumnya lalai menjadi sadar dan segera kembali ke jalan Allah dengan tobatan nasuha. 

Kesimpulannya, spiritual writing adalah bagaimana beramar makruf nahi mungkar atau berdakwah kepada diri sendiri dan masyarakat melalui tulisan. [DRH]

Jumat, 06 Maret 2009

Resensi: PRESIDEN AS PERTAMA YANG 100% YAHUDI

Judul buku: PRESIDEN AS PERTAMA YANG 100% YAHUDI || Penulis: Tony Syarqi || Editor: Mustarom || Penerbit: Jazera || Cetakan: Pertama, Pebruari 2009 || Ukuran: 19,5 x 13 cm || Tebal: 120 Halaman || ISBN : 978-979-266-317-4 || Harga: Rp 28.000,-

Jenis buku: Sosial, politik, dan religi

Buku ini ditulis untuk lebih jauh mengenalkan sosok Obama, presiden AS ke-44, dan mengurai jejaring Yahudi di sekelilingnya. Siapa “sebenarnya” Obama? Berbeda dengan yang selama ini di-publish oleh banyak pustaka dan media mainstream—sehingga memunculkan fenomena “obamania”—buku ini menyingkap tabir rahasia dari pertanyaan mengapa kepemimpinan baru AS tidak seperti yang diharapkan oleh kebanyakan publik, utamanya negeri-negeri Islam. Mereka mengelu-elukan dan berharap bahwa kepresidenan Obama bisa memberi angin segar bagi perikehidupan muslim, khususnya di timur tengah. Tak terkecuali Indonesia, beberapa tokoh nasional bahkan memberikan statemen mereka soal pencapresan Obama:  
• Presiden SBY berharap hubungan Indonesia dengan AS berjalan lebih baik di bawah presiden baru, Obama. “Saya memiliki keyakinan, kita bisa meningkatkan kerja sama yang konstruktif dan adil mengingat Indonesia dan AS adalah sama-sama negara demokrasi yang besar.”
• Wapres Yusuf Kalla menegaskan, “Pikiran orang Amerika Serikat adalah bagaimana agar presiden AS mendatang bukan Bush atau yang semacamnya (Mc Cain), bukan pula policy seperti yang dikeluarkannya. Jadi bukan Republik (partai yang mengusung Bush menjadi presiden AS).”
• Ketua PP. Muhammadiyah, Din Syamsuddin bergembira atas kemenangan Obama. Saat sedang mengikuti forum dialog Katolik-Islam di Vatikan, Din mengatakan, “Obama perlu menampilkan pendekatan kepemimpinan bersahabat kepada dunia Islam sebagai kekuatan besar pula. Keduanya dapat menjadi faktor pendorong perbaikan dunia yang tengah penuh krisis dewasa ini.”
Selainnya itu, beberapa kelompok masyarakat di Indonesia juga mengadakan semacam syukuran atas kemenangannya, ironi. 

Nasib umat Islam tak ubahnya sekumpulan anak ayam yang kehilangan induk yang kemudian menemukan musang untuk mereka angkat sebagai pelindung. Meski demikian, penulis mengatakan bahwa buku ini tidak akan ada manfaatnya jika umat Islam memahami dengan baik firman Allah, “Sekali-kali Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepada kalian, sampai kalian mau mengikuti agama mereka.” (Al-Baqarah: 120)

Sesuai dengan judulnya, dari awal hingga akhir, buku ini mengupas sisi gelap ideologi Obama. Apa benar presiden AS ke-44 itu adalah seorang Yahudi?

Penelusuran kehidupan Obama; dari keturunan siapa dia dilahirkan, sudah menunjukkan bahwa ada darah Yahudi mengalir di tubuhnya. Begitu pula dengan mengetahui teman-teman dekatnya yang semuanya adalah orang-orang Yahudi. Di antara mereka adalah Bettylu Saltzman, Newton Minow, Abner Mikva, David Axelrod, Richard M. Daley, dan lainnya. Adapun istrinya, Michelle Robinson, dia pun memiliki garis keturunan Yahudi. Sepupu Michelle, Capers C. Funnye Jr., adalah seorang rabi Yahudi, pemimpin jemaat Yahudi Ethiopia di kawasan Marquette Garden, Chicago dan pemimpin Sinagog Beth Shalom B’nai Zaken. 

Sebenarnya, yang menyebut Barack Hussein Obama sebagai “Presiden Yahudi pertama Amerika” adalah adalah dari kalangan mereka sendiri, Abner Mikva, misalnya. Jubir Zionis yang cukup populer sekaligus mantan anggota kongres yang juga penasihat gedung putih masa Bill Clinton ini mengatakan, “Obama adalah presiden Yahudi pertama Amerika.”

Di dalam buku ini disebutkan bagaimana Yahudi mengader Obama dari semenjak dia sekolah di Harvard Law School. Oleh profesor Zionis, Martha Minow, Obama dijuluki sebagai orang yang cerdas, menjanjikan, mempuyai ambisi politik yang besar, dan seseorang yang sangat mungkin untuk direkrut. 

Demikianlah, dari buku ini Anda juga bisa menyimak bagaimana upaya Yahudi yang all out (baca: melakukan apa saja) demi mengantar Obama menjadi orang nomor satu di AS; mulai dari propaganda dan intrik media hingga penggalangan dana. AIPAC juga berperan penting dalam kesuksesan Obama sehingga menguasai gedung putih. 

Setelah menjabat, buku ini juga menunjukkan siapa saja yang ditunjuk Obama sebagai pembantu dan stafnya. Beberapa posisi kunci penentu kebijakan AS pun ternyata diamanahkannya kepada orang-orang Yahudi, yang pro Yahudi dan membenci Islam. Simak juga bagaimana pernyataan-pernyataan Obama yang semakin menunjukkan bahwa ke depan—dalam masa pemerintahannya—AS akan tetap berpihak kepada Israel, menjadi sahabatnya, menjaga keamanannya, bahkan menjanjikan bantuan dana senilai 30 Miliar US$.

Buku ini terdiri 120 halaman. Dikonsep sebagai buku yang habis dibaca sekali duduk. Bahasanya mengalir. Dalam anatominya, buku ini tidak menyediakan halaman referensi. Semua rujukan penulisan disusun langsung ke dalam footnote yang sebagian besar bersumber dari internet. Image inside-nya didominasi oleh foto Obama dalam beberapa pose dan orang-orang Yahudi pendukungnya. 

Penulisnya, yang sehari-sehari berprofesi sebagai editor dan praktisi perbukuan Islam, menunjukkan kepiawaiannya dalam menulis dengan menampilkan beberapa kosa kata dan istilah yang jarang digunakan, seperti mentahbis, prestisius, utopia, ultra nasionalis, dan masih banyak lagi. Sayangnya, tidak dilengkapi dengan halaman indeks atau glosarium. 

Setelah membaca buku ini, kiranya terjawab sudah mengapa harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Berharap kepada Obama adalah sikap yang sama sekali tidak diajarkan Islam yang mengajarkan kepada umatnya, ‘izzah (kewibawaan). Perseteruan antara umat ini dengan bangsa Yahudi dan Nasrani adalah abadi (Al-Baqarah: 120).

Cukup sudah angan-angan kaum muslimin tentang Obama dengan dibombardirnya Gaza oleh Israel di penghujung tahun 2008 hingga awal tahun ini. Sebuah perang takkan mengubah peta lawan menjadi kawan secara tiba-tiba tanpa ada pengorbanan harta maupun jiwa. [DRH]  

Lagi-lagi: PASTI ADA JALAN KELUAR!

Dua atau tiga hari yang lalu saya berkomunikasi via YM dengan kawan saya di Semarang. Kawan saya itu mengeluhkan keadaannya. “Mumet (pusing),” katanya. Setelah itu, dia bercerita bahwa bisnisnya sedang sepi, bahkan bisa dikatakan sudah hancur. Saya sarankan kepadanya untuk bersabar, saya katakan, “Pasti ada jalan keluar.” Saya pun menambahkan beberapa kalimat, yaitu hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Umamah. 

Bagian inilah yang saya kutip dari buku PASTI ADA JALAN KELUAR! 1001 Doa Solutif:

Rasulullah bertanya, “Wahai Abu Umamah, kenapa engkau duduk di masjid sedang saat ini bukan waktu shalat?” 

Jawab yang ditanya, “Saya dirundung sedih dan dililit utang, wahai Rasulullah.”

“Maukah aku ajari doa yang apabila engkau membacanya, Allah akan menghilangkan kesedihanmu dan membuat utangmu terlunasi?” 

“Tentu, ya Rasul.” 

Rasulullah kemudian mengajarinya sebuah doa. Abu Umamah berkata, “Saya pun selalu melafalkan doa tersebut. Tak lama, Allah menghilangkan duka dan sedihku serta melunasi utangku.” Subhanallah. 

Kawan saya bertanya, “Bagaimana doanya, bos?” Dengan gaya bicaranya yang ala semarangan. Saya pun meng-copy paste-kan doanya (asli) dalam teks Arab. “Bos, translatenya aja.” Dimaklumin, saja ya. Saya pun kemudian menuliskan lafal doa tersebut ke dalam huruf-huruf latin. “Apa artinya?” Tanyanya lagi. “Matur nuwun, ya Bos,” akhirnya. Saya kemudian mengakhiri percakapan tersebut dengan mengatakan kepadanya, “Semoga sukses.” Sayangnya saya tidak menyimpan detil percakapan tersebut. Tetapi, isinya, ya seperti yang saya tulis ini (garis besarnya). 

Hari ini, Jumat, 6 Maret 2008. Tiba-tiba kawan saya tersebut menyapa saya lagi melalui YM. Kali ini saya sempatkan untuk meng-copy percakapan yang terjadi hari ini. 

Kawan saya (3/6/2009 1:19:48 PM): assalamualaikum
dwipenulis (3/6/2009 1:19:58 PM): wa'alaikum salaam.
dwipenulis (3/6/2009 1:20:22 PM): kaifa hal?
dwipenulis (3/6/2009 1:20:42 PM): apa kabar?
Kawan saya (3/6/2009 1:21:31 PM): baikkk
Kawan saya (3/6/2009 1:21:38 PM): sy di jkt
Kawan saya (3/6/2009 1:21:43 PM): smp tgl 16
Kawan saya (3/6/2009 1:21:46 PM): training
Kawan saya (3/6/2009 1:21:51 PM): alhamdulillah
dwipenulis (3/6/2009 1:22:28 PM): 
Kawan saya (3/6/2009 1:24:19 PM): berkat doa yg njenengan ksh tho boss
dwipenulis (3/6/2009 1:28:35 PM): semua dari Allah.
dwipenulis (3/6/2009 1:28:50 PM): bentar, ya, ana mau meeting dulu.
Kawan saya (3/6/2009 1:29:40 PM): siappp... 

“Subhanalah, Allahu Akbar,” hanya itu yang terbersit di benak saya karena saya benar-benar harus cepat-cepat beranjak untuk meeting. Seusai meeting, saya kembali membuka kotak dialog YM yang masih dalam posisi minimize di taskbar. Saya pun bergumam sendiri, “Satu lagi jalan keluar. Ya Allah kepada siapa lagi kalau bukan kepada-Mu kami meminta.”[DRH] 

Rabu, 25 Februari 2009

Resensi: PASTI ADA JALAN KELUAR!

Judul buku: PASTI ADA JALAN KELUAR! 1001 Doa Solutif ||Penulis: Muhammad Shiddiq Al-Mansyawi||Alih Bahasa: Umar Mujtahid||Penerbit: AQWAM||Ukuran: 19,5 x 13 cm||Tebal: 223 halaman||Harga: Rp 30.000,-

Buku ini adalah buku motivasi dan doa. Penulisnya mengajak kaum muslimin, untuk melazimi zikrullah. Sebab, dengan mengingat Allah akan menghidupkan hati siapa saja yang mengenal Rabb, Allah sang Pencipta. 

Buku ini mengurai sekian banyak doa yang dipanjatkan oleh para Nabi dan orang saleh terdahulu, saat mereka terhimpit berbagai masalah. Doa-doa tersebut kiranya menjadi sesuatu yang paling dibutuhkan oleh masyarakat kita sekarang. Kisah-kisah inspiratif di dalamnya menjadi spirit bagi masyarakat untuk tidak berputus asa dari petunjuk Allah dalam mencari solusi dari setiap permasalahan. 

Pada suatu hari, Rasulullah memasuki masjid. Di dalam masjid sudah ada salah seorang sahabat Anshar bernama Abu Umamah. Rasulullah bertanya, “Wahai Abu Umamah, kenapa engkau duduk di masjid sedang saat ini bukan waktu shalat?” 
Jawab yang ditanya, “Saya dirundung sedih dan dililit utang.” 
“Maukah aku ajari doa yang apabila engkau membacanya, Allah akan menghilangkan kesedihanmu dan membuat utangmu terlunasi?” 
“Tentu, ya Rasul.” 
Rasulullah kemudian mengajarinya sebuah doa. Abu Umamah berkata, “Aku pun selalu melafalkan doa tersebut. Tak lama, Allah menghilangkan duka dan sedihku serta melunasi utangku.” Subhanallah, demikian penggalan kisah dibalik doa yang ada di dalam buku. 

Buku ukuran sedang dengan warna kover dominan coklat ini didesain sehingga pas di tangan dan enak dipegang. Dalam penggarapannya disebutkan bahwa penyusunan isinya telah mengalami perubahan. Awalnya, terkesan berserak dan sekadar dikumpulkan sehingga tema-temanya saling tercampur. Oleh penerbit, tema-tema tersebut kemudian dikelompokkan sesuai kategorinya dan diurutkan. Jadinya, penyajian bahasannya berkelanjutan; mulai dari urusan dunia, bagaimana meraih kebaikan di akhirat, hingga agar dijauhkan dari siksa neraka. Akan lebih kompleks solusi berbagai permasalahan yang ditemui, jika pembaca lebih mendalami samudra faidah darinya. 

Banyak buku-buku doa telah diterbitkan, tetapi yang satu ini benar-benar beda. Kelebihannya adalah pada kisah-kisah salaf (klasik) yang ditampilkan. Kisah-kisah tersebut solah menjadi klaim bahwa doa-doa tersebut terbukti sahih dan mujarab. Selain itu, buku ini juga diperkaya dengan beberapa sisipan, yang menjadikannya semakin beda dengan buku doa yang lain. Sisipan yang bermanfaat itu antara lain bacaan zikir pagi dan sore hari, penyebutan syarat agar doa terkabul, dan tips praktis menghafal doa. 

Terakhir, manfaat buku bagi pembaca adalah memberi petunjuk tentang berbagai doa yang sahih dan telah terbukti keampuhannya, sekaligus membangkitkan motivasi untuk tetap optimis, tidak berputus asa dari rahmat Allah, dan mencari solusi dari problematika kehidupan dengan melibatkan peran serta Allah.